Tetep Tenang dan Sabar
Tetep Tenang dan Sabar
@syar_if_udin
Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah
separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan –Ibnu Sina
Rahimahullah.
Sejarah baru akan terukir, efeknya merambah hampir
keseluruh penjuru dunia, berimbas kesegala sektor, mulai dari perekonomian
sampai dengan pendidikan. Kebanyakan beranggapan sedang berperang melawan musuh
yang memang tak dapat dilihat kasat mata, tapi sebagian yang lain memiliki
pandangan yang berbeda, ada yang beranggapan senjata biologis yang sengaja
dibuat oleh suatu kelompok ataupun negara bahkan tidak sedikit orang yang
beranggapan bahwa semuanya hanya akal-akalan para penguasa yang seakan memiliki
dunia.
Di pertengahan bulan maret tahun 2020 M, hal yang sangat
signifikan dibahas orang-orang saat itu ialah tentang salah satu wabah yang mana
WHO (Worl Healt Organization) telah
menetapkannya sebagai pandemi, Covid -19 atau lebih dikenal sebagai virus
corona, ditetapkan sebagai pandemi karena WHO telah menerima data bahwa 13 kali
lipat penyebaran virus terjadi diluar China-yang merupakan awal mula virus
ditemukan. Sejak saat itulah sejarah baru dimulai. Dunia seakan bergejolak,
semua negara terlihat kebingungan menghadapinya.
awal kemunculan virus ini menurut berita yang
didapat dari berbagai sumber sepakat, bahwa kota Wuhan-China- menjadi kota awal
ditemukannya virus covid-19. Namun dengan waktu yang singkat virus dinyatakan
menyebar melalui kontak fisik antar manusia. Asal mula virus tersebut ada
bermacam versi, tapi yang jelas secara global disepakati bahwa virus menyebar
melalui kontak fisik.
Kecanggihan teknologi saat ini benar-benar berimbas
besar pada menyampaian berita yang sampai ke negara kita. Bahkan tak harus
menunggu siaran ditelevisi ataupun radio kita semua dapat memperoleh berbagai
informasi diseluruh penjuru dunia. Persebaran berita yang cepat-meski kadang
tak akurat- kadang kala membuat kita menjadi was-was bahkan dapat mempengaruhi
pemikiran kita.
Sebagai seorang pelajar yang jauh dari orangtua dan
memang aku jarang komunikasi virtual dan lebih suka kalau bertemu secara
langsung, membuat diriku jarang bertelepon dengan keluarga yang dirumah hingga
suatu ketika ibuku bertanya akan keadaanku,”Rif, bagaimana disana?, apa baik-baik
saja?, kalau bisa pulang saja?”- tanya ibu via chat whatsapp kala itu .
“Alhamdulillah bu, baik, nanti kalau ada kesempatan aku pulang kok bu.”sesegera
mungkin kubalas chat itu berniat agar tidak khawatir aja sih. Namun saat itu
aku masih blom ada niatan tuk pulang, mungkin karena uang saku masih cukup-hehe.
Semuanya perlahan seakan diserang oleh wabah ini,
termasuk tempat belajarku. Kampus telah membuat kebijakan untuk UTS secara
daring dan akhirnya UAS-pun juga daring, entah tahun ajaran baru nanti seperti
apa. Hal itu membuat suasana perantauan menjadi berbeda, hanya mengandalkan
jaringan internet, dan hanya dengan membuka laptop dan menyambungkan wifi,
perkuliahan sampai ujian pun dapat terlaksana. Namun, aku yakin kalian pasti
juga merasakan hal yang sangat berbeda dengan perkuliahan yang dilakukan tatap
muka.
Berita tentang persebaran virus corona semakin
menjadi-jadi, diiringi dengan kebijakan pemerintahnya, mulai dari penerapan social distancing, lockdown (karantina wilayah) sampai pemberlakuan Pembatasan Sosial
Berskala Besar (PSBB). Setiap harinya pun diperoleh data oleh pemerintah bahwa
jumlah pasien positif corona semakin bertambah. Tak ingin menimbulkan
kekhawatiran yang berlebih, akhirnya aku pulang ke desa.
Sebelum itu aku sedikit khawatir akan kepulanganku,
pasalnya virus ini dikenal ganas, tak pandang bulu dalam menyerang setiap
orang, tapi orang yang mempunyai imunitas tubuh yang baik tidak mudah terserang
virus ini. Namun, orang yang mempunyai imunitas tinggi tidak menutup
kemungkinan untuk membawa virus ini. Itulah yang membuatku khawatir. Aku bisa
saja terlihat sehat, tapi apakah aku benar-benar tidak terinfeksi virus?.
Kekhawatiranku seakan menyelimutiku diperjalanan
pulang. Namun, aku tak sedikitkan mengurungkan niatku untuk segera menemui
kedua orangtua dan keluarga. Sesampai dirumah, matahari masih terasa hangat dan
diri ini masih berbalut jaket lengkap dengan sarung tangan dan masker yang
kupakai, ternyata dirumah sudah tersedia handsanitizer.
Tak berselang lama, ibu keluar dari dalam rumah terlihat kegembiraan diraut
wajahnya atas kepulangan anaknya. Selepas mencium tangan ibu akupun bergegas
kekamar dan mulai menata barang bawaan dan membereskan tempat tidurku yang
lumayan lama aku tinggal diakhiri berganti pakaian.
Pemerintah menerapkan karantina 14 hari bagi orang
yang pulang kampung, karena orang dinyatakan negatif corona apabila telah melewati masa karantina tersebut. Namun aku
berhasil lolos dari tempat karantina tersebut, tapi malah membuatku semakin
khawatir akan persebaran virus itu. Sebab, belum seminggu dirumah aku merasa
tidak enak badan, juga disertai batu-batuk. masyarakat sekitar juga tau, adapum
gejala pertama terkena virus ialah batuk tidak berdahak.
Ternyata bukan hanya aku yang khawatir akan
batuk-batukku, tapi bapak ibu pun juga demikian. Akhirnya aku dirumah serasa
dikarantina, tidak boleh keluar rumah bahkan berjamaah dimasjid pun
kutinggalkan saat itu. Namun, aku berusaha menyakinkan diri bahwa memang tak
ada virus itu dalam tubuhku, akhirnya aku mulai mencoba mengobatinya mulai
dengan cara tradisional yakni dengan wedang jahe yang dikombinasikan dengan
kencur dan sereh, sampai obat koonvesional bahkan obat batuk yang tersedia di
apotek telah aku coba. Namun seakan tak berefek pada batukku, merasakan hal
tersebut aku malah tambah khawatir saat itu, mau periksa, nanti kalau positif
dikarantina gak ada keluiarga yang boleh jenguk -kalaupun ada mungkin hanya
satu-dua orang, mau dibiarin, kok ya nggak sembuh-sembuh nih batuk.

Comments
Post a Comment