Menanam Kebaikan


 Menanam Kebaikan

Wong nandur bakal ngunduh. Mangkane dadi wong iku, belajar nandur apik, tapi gausah arep-arep uwoh e.

-Sanjang e Bapak-

Orang yang menanam akan memanen. Maka dari itu, belajarlah menjadi orang baik(dengan menanam kebaikan), tapi jangan mengharap(pada manusia) akan buahnya(hasilnya).

Perbincangan sore itu membahas tentang bagaimana seseorang menjalankan hidupnya dengan baik dan benar. Entah berawal dari mana topik pembahasan tersebut, akhirnya bermuara dan kepada petuah sang ayah mengenai kesejatian manusia. 

Memang jarang sekali bapak membicarakan mengenai hal-hal pembelajaran hidup. Sosok beliau di masyarakat sudah menjadi salah satu tokoh lingkup dusun dan bisa dikatakan beliau merupakan tokoh berpengaruh dikalangannya. 

Terlepas dari semua itu, bagiku beliau merupakan salah satu sosok yang kukagumi. Bagaimana tidak, kesabaran beliau seakan diatas rata-rata. Pernah suatu ketika beliau bercerita saat seusai beliau ditipu oleg rekan bisnisnya. Alasan yang mengejutkan yakni Yaa.... brarti amal e sek kurang (Yaa, berarti amalnya masih kurang), barean masio duwek e gk entek dibijuk uwong yo entek gawe liane (meskipun uangnya tidak habis karena ditipu orang, nanti bakalan habis buat keperluan yang lain) begitu kata beliau saat bercerita sambil terus menghisab rokok di tangannya.

Beliau seringkali menanamkan benih-benih kehidupan dan menunjukkan beberapa contoh yang sudah ada, baik diambil dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Tiap kali waktu senggang dan mengobrol anak dengan bapak, beliau senantiasa menasehati dengan perlahan. Memberikan pemahaman tentang seni kehidupan, yang berputar layaknya roda, dan tercermin dari diri tiap manusia yang melakukan laku-perilaku manusia sempurna. 

Kita mungkin pernah atau bahkan sering mendengar paribahasa siapa yang menanam akan panen. Akan tetapi, kita jarang memaknainya dalam kehidupan. Kita cukup paham akan hal tersebut, namun secara tidak langsung kita juga terarah akan pengharapan kepada selain Yang Maha.

Ketika diri merasa berhasil melakukan hal baik, saat itu diri secara tidak sadar akan mengaharapkan panennya. Salah satu contoh, ketika kita dibantu dalam mengerjakan suatu pekerjaan, seringkali diri mengharap imbalan dari bantuan yang kita serahkan, entah sekecil apapun itu. Dari sinilah, pengharapan itu muncul, lembut seperti kapas dan tenang seperti air yang menggenang. Seringkali diri tak merasanya, tapi terus-menerus berjalan seperti itu adanya.

Bapak paham betul akan terjadinya kesenian dunia seperti itu. Oleh karena itu, beliau selalu mewanti-wanti agar selalu ingat kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa dan menyandarkan apapun harapan hanya kepada-Nya. Akan tetapi, bagaimana pun kita harus selalu berhuat baik tapi ingat, tanpa mengharapkan balasan kebaikan dari orang lain. Memang terasa cukup sulit tapi Allah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 195

{ وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ }

[Surat Al-Baqarah: 195]


Artinya:

Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.





Comments

  1. Masyaallah..sangat bermanfaat sekali tulisan daei saudara. Semoga saudara dan keluarga selalu selamat dan di lindungi Allah.

    Juga, semoga tulisan saudara benar menjadi pengingat untuk kami semua agar menjadi hamba yang ikhlas..😊

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts