Jaman Wis Akhir

Judulnya sengaja aku samakan dengan judul aslinya yakni "Jaman Wis Akhir".
Dari kesekian banyak syair Mbah Nun yang sering terdengar di telingaku, banyak potongan lirik dalam judul tersebut amatlah terpatri di fikiranku. Amant sangat menusuk kedalam sanubari serta membawa kesadaran akan banyak hal seakan menjadi tamparan bagi hamba yang seringkali lupa dan meremehkan apa yang ada di depannya.
Kesalahan berfikir yang dikupas dalam syairnya sangat sekali relefan dengan kondisi diri ini saat ini.
Diri ini mengajak seluruh jiwa yang lain dengan menghayati setiap kalimat indah yang pernah dilantunkan oleh sang guru bangsa Emha Ainun Najib
Inilah syairnya

Jaman Wis Akhir
Kalau yang sunyi engkau anggap tiadaMaka bersiaplah terbangun mendadak dari tidurmu oleh ledakannyaKalau yang diam engkau remehkanBikinlah perahu agar di dalam banjir nanti engkau tidak tenggelamKalau yang tidak terlihat oleh pandanganmu engkau tiadakanBersiaplah jatuh tertabrak olehnyaDan kalau yang kecil, kalau yang kecil engkau sepelekanBersiaplah menikmati kekerdilanmu di genggaman kebesaran-Nya
Kalau memang yang engkau pilih bukan kearifan untuk berbagiMelainkan nafsu untuk menang sendiriMaka terimalah kehancuran bagi yang kalahDan terimalah kehinaan bagi yang menangKalau memang yang mengendalikan langkahmu adalah rasa senang dan tidak senangDan bukannya pandangan yang jujur terhadap kebenaranMaka buanglah mereka yang engkau benciDan bersiaplah engkau sendiri akan memasuki jurang
Jaman wis akhir, jaman wis akhir bumine goyangAkale njungkir, akale njungkir, negarane guncangJaman wis akhir, jaman wis akhir bumine goyangAkale njungkir, akale njungkir, negarane guncang
Awan berarak, nyawa manusia berserak-serakBadai menghantam, laut terbelah, bumi terpecahOrang bikin luka, orang menganiaya diri sendiriSirna akalnya, lenyap imannya, hilang jejaknya
Jaman wis akhir, jaman wis akhir dunyane sungsangMakmume kintir, makmume kintir, imame ilangJaman wis akhir, jaman wis akhir dunyane sungsangMakmume kintir, makmume kintir, imame ilang
Orang menangis keranda berbaris di bawah gerimisHamba bersimpuh, hamba bersujud, ngeri dan takutOrang mencakar, orang menampar wajahnya sendiriHamba terkapar, jiwa terbakar oleh sepi
Jaman wis akhir, jaman wis akhir langite petengAtine kafir, atine kafir, uripe nglenengJaman wis akhir, jaman wis akhir langite petengAtine kafir, atine kafir, uripe ngleneng
Duh Gusti Allah, adakah sisa kasih sayang-Mu?Hamba celaka, hamba durhaka tidak terkiraDi manakah hamba sembunyi dari murka-Mu?Selain dalam tak terbatasnya cinta kasih-Mu
Jaman wis akhir, jaman wis akhir banjire bandangSing mburi mungkir, sing mburi mungkir, sing ngarep edanJaman wis akhir, jaman wis akhir banjire bandangSing mburi mungkir, sing mburi mungkir, sing ngarep edan
Kalau memang yang bisa engkau pahami hanyalah kemauan, kepentingan dan nafsumu sendiriDan bukannya kerendahan hati untuk merundingkan titik temu kebersamaanMaka siapkan kekebalan dari benturan-benturan dan lukaUntuk kemudian orang lain menggali tanah untuk menguburmuKalau memang engkau bermaksud menyulap sejarahDan mengubah zaman dalam sekedipan mataDan bukannya bersabar menggembalakan irama dan prosesMaka, nantikan darah akan muncrat membasahi tanah airmuKemudian engkau sendiri akan terjerembab, terjatuh di terjalan-terjalan ketidakberdayaan
Kalau memang sesembahanmu adalah kenikmatan di dalam membenciAdalah mabuk di dalam teriakkan caci makiAtau keasyikkan di dalam kecurangan-kecuranganMaka ambil pedangmu, angkat tinggi-tinggiDan mulailah menabung kerelaan untuk engkau sendiri, matiKalau engkau menyangka bahwa benarnya pendapatmu sendiri itulah kebenaranMaka apa boleh buat, aku mendaftarkan diri untuk melawanmuDan kalau engkau mengira bahwa benarnya orang banyak adalah segala-galanyaDimana langit mimpi-mimpi bisa engkau raih dengan ituMaka jangan sekali-kali menghalangiku untuk mengedari langitDan kupetik kebenaran yang sejati untuk aku taburkan ke bumi tanpa bisa engkau halangi
Dan kalau memang bagimu kehidupan adalah perjuangan untuk berkuasaDan mengalahkan saudara-saudaramu sendiriKalau engkau mengira kehidupan adalah saling mengincar untuk menikam dari belakangAtau untuk mengganti monopoli dengan monopoli baruMenggusur hegemoni dengan hegemoni baruSerta mengusir macan untuk engkau macani sendiriMaka apakah itu usulanmu? Agar kita mempercepat keputusan untuk saling memusnahkan?

Comments

Popular Posts